Back to Square One
Alhamdulillah akhirnya bisa kembali mengisi tulisan di blog saya yang sudah lama terbengkalai. Ketika membuka wordpress, terbersit dalam pikiran untuk berbagi pengalaman yang juga masih ada kaitannya dengan fotografi.
Pada akhir bulan lalu, saya menawarkan diri untuk mengajari teman bagaimana cara manggunakan DSLR dan sedikit mengenai teknik fotografi (yang saya ketaui). Kami janji bertemu di bunderan HI dan saya datang berdua bersama adik saya. Setelah ketemu, jadilah saya ajarkan beberapa teknik dasar, yaitu pengaturan ISO, shutter speed dan aperture.
Pada saat itu, saya merasa sangat kaku dalam menggenggam DSLR karena memang sudah lama tidak hunting bareng teman-teman di klub fotografi. Secara teori saya masih ingat, tapi dalam prakteknya saya masih harus menyesuaikan karena tangan saya sudah kaku. Bandingkan dulu ketika lagi rajin-rajinnya hunting bareng, pengaturan aperture & shutter dapat dilakukan dengan cepat. Langsung bidik sana, bidik sini. Tapi sekarang saya tidak berbeda dengan orang yang baru menggunakan DSLR.
Memang, keterampilan dan keahlian harus sering-sering kita gunakan. Tidak hanya fotografi, tapi seluruh keahlian lain termasuk menyetir, memasak, dsb. Kesibukan mengajar, belajar, dan bekerja telah banyak menyita waktu dan tenaga. Julukan Forsami (Fotografer Sabtu-Minggu) sudah tidak lagi melekat di diri saya yang lebih memilih untuk istirahat di rumah pada akhir pekan. Semakin lama kita tidak menggunakan keterampilan kita, maka nanti kita akan menjadi orang yang tidak terampil seperti idiom dalam bahasa Inggris: Back to square one.
Teknik Fotografi
Kadang ada beberapa teman yang bertanya:
Bar, elo belajar fotografi di mana?
Biasanya saya jawab:
Enggak kok, cuman belajar sendiri ajah… otodidak!
Tapi sebenarnya sih yang pertama kali pelajaran fotografi itu adik saya. Tapi hanya sekedar dasar-dasar ilmunya saja, seputar ISO, aperture, dan shutter-speed. Memang, ketiganya adalah prinsip dasar kalau mau belajar teknik fotografi yang “manual”. Kalau tidak mau repot, ya tinggal atur aja ke Full Automatic, beres deh. Tapi kan seninya fotografi kan kalau kita bisa pakai yang manual. Ibaratnya kalau mengendarai mobil, biar kaki tidak pegal ya pakai mobil yang “matic”. Tapi kan seninya justru kalau pakai kopling. Yah begitulah analoginya.
Setelah belajar dasarnya, saya langsung beli kamera sendiri (meskipun cuma kamera second
). Kemudian mulai melakukan eksplorasi dan eksperimen sendiri. Mencari obyek-obyek yang menarik untuk difoto. Foto landscapes, nighscapes, people semua saya coba. Tapi masih banyak yang harus dieksplorasi, masih banyak yang perlu dipelajari. Semuanya itu proses pembelajaran. Yang terpenting pelajari ilmu dasarnya terlebih dahulu. Setelah itu lakukan eksperimen. Cari obyek dan komposisi yang menarik. Perlahan-lahan teknik kita akan semakin bagus.
Untuk memperkaya ilmu kita, coba cari beberapa sumber mengenai teknik fotografi. Bagi yang memiliki duit, boleh ikut kursus fotografi. Tapi kalau mau yang hemat, cari aja tutorial secara online. Ada banyak kok tutorial online yang gratis di internet. Coba pelajari dan praktekkan! Ada satu situs yang sangat menarik, terutama yang suka traveling: Dan Heller Photography. Saya sangat menyukai bagian nite photography-nya dan tertarik ingin mencoba star-trails photography. Tapi sepertinya mesti beli cable release nih.
Bagi saya fotografi dapat memberikan perspektif yang berbeda dari obyek yang kita tangkap. Jadi, mari belajar fotografi!
Garuda Indonesia International Photo Contest 2009
Dengan mengucapkan bismillah, akhirnya saya secara resmi ikut serta dalam lomba foto yang diadakan oleh Garuda Indonesia. Browse, register & upload! Ya, sesederhana itu untuk ikut serta dalam lomba yang memperebutkan hadiah uang tunai sebesar Rp 30.000.000, kalau bisa jadi Juara Pertama lho, hehe. Yah, udah lewat babak kualifikasi aja langsung sujud syukur mengingat photo contest ini adalah salah satu kontes yang bergengsi. Sudah barang tentu, banyak fotografer profesional dan senior yang akan turut serta. Tapi, iseng-iseng berhadiah lah… Kita tak pernah tau kalau belum mencoba…
Adapun Garuda Indonesia International Photo Contest 2009 ini merupakan ajang kontes foto yang ketiga sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2007. Kontes terdiri dari dua babak, kualifikasi dan final. Untuk berpartisipasi pada babak kualifikasi caranya mudah. Cukup kirimkan maksimal 10 foto terbaik (boleh color atau B/W), format JPEG dengan ukuran file maksimal 500 KB (width max. 1024 pixel atau 150 dpi). Upload sebelum tanggal 17 Mei 2009. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada situs resmi berikut: http://www.garudacompetition.com/contest.php
Selamat Berjuang Kawan!
Berikut ini foto-foto yang saya upload dalam photo contest
Hunting Foto di KRL
Belakangan ini saya merasa agak bosan dengan hunting foto bareng yang bertema fashion photography. Bukannya kurang menarik, tapi rasanya saya butuh sedikit variasi, jadi tidak foto model melulu. Dalam hati saya ingin sekali mencoba foto yang beraliran Human Interest. Akhirnya keinginan saya tercapai juga setelah Ryo mengajak hunting bareng di atas KRL. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya meng-iya-kan ajakan tersebut.
Seminggu kemudian, akhirnya kami merealisasikan rencana tersebut dengan janji bertemu di stasiun Manggarai sekitar pukul 8 pagi. Kami masih berada di stasiun sampai sekitar pukul 09.45 untuk menunggu teman yang lain untuk datang. Setelah berkumpul, total ada 5 orang yang akan hunting di kereta. Karena KRL Ciliwung Blue Line tidak beroperasi, kami membeli tiket Ekonomi AC ke Bogor seharga Rp 5.500. Setelah itu, kami bergegas lari menuju kereta yang sudah ada di peron. Tak lama setelah duduk, pintu kereta langsung ditutup. Untung saja kami sempat naik kereta, kalau tidak bisa lama lagi nunggunya.
Stasiun Tebet, Cawang, Kalibata sudah dilewati oleh kereta. Saya masih duduk di kursi dan mempersiapkan Canon EOS 400D saya yang sudah terpasang lensa Canon EF 28-105mm f/3.5-4.5 II USM. Lensa ini memang favorit saya untuk foto candid, namun saya belum mempraktekkannya di tempat umum seperti di kereta. Biasanya hanya seputar wedding dan foto-foto iseng ketika jalan-jalan bersama teman. Tidak seperti saya, Ryo sudah berjalan mondar-mandir dari gerbong depan sampai gerbong belakang, entah objek apa yang difotonya.
Saya masih belum beranjak dan dalam duduk saya sempat berpikir, apa yang akan saya foto. Saya harus menemukan objek yang menarik, yang tentunya adalah manusia, namanya juga Human Interest. Akhirnya saya menemukan sesuatu yang sangat menarik minat saya, yaitu anak-anak. Karena situasinya adalah hari Minggu, sehingga banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya bertamasya. Dengan modal nekat, akhirnya setelah stasiun Pasar Minggu, saya memberanikan diri untuk beranjak dari kursi dan mulai hunting dengan objek prioritas anak-anak.
Kamera sudah ON, dan ISO telah saya set 1600 dengan monochromatic shooting alias B/W. “Kenapa mesti diset B/W? Kenapa gak foto berwarna aja, terus jadiin B/W pakai Photoshop?!” Jawabannya karena saya ingin melihat dunia ini secara berbeda, yaitu secara monochrome. Saya tidak bilang kalau B/W, hasilnya pasti jadi bagus. Bagus atau tidak itu kan relatif. Sebenarnya saya terinspirasi dari Markus Hartel, seorang street photographer. Saya sangat menyukai foto-fotonya, dan kebanyakan memang dalam monochome. Sebelum memotret, saya sudah bayangkan bagaimana nanti hasilnya dalam B/W. Namun, bagian tersulit adalah menangkap momen karena hanya akan datang sekali saja dan cepat terlewat. Tapi jika momen tersebut dapat diambil, rasanya sangat puas sekali. Walaupun belum pro di dunia fotografi, tapi saya sangat menikmatinya dan belajar banyak dalam sesi foto di atas KRL tersebut.
Catatan: Beberapa foto lain dapat dilihat di flickr saya
Wedding Photographer
Menurut saya, pernikahan adalah sesuatu yang amat sakral, momen terjalinnya suatu ikatan suci antara seorang suami dan istrinya. Momen yang penuh keharuan dan sukacita yang terpancar dari kedua pasangan pengantin. Entah kenapa, saya sangat suka melihat ekspresi yang terpancar dari kedua mempelai. Kemudian juga ada perasaan yang puas ketika berhasil menangkap momen-momen kebahagiaan kedua pasangan tersebut. Rasanya jadi mau nikah juga… hehe….
Tapi sebelum beraksi jadi wedding photographer, biasanya saya mempersiapkan semua perlengkapannya, mulai dari kamera, lensa, speedlite beserta baterainya. Khusus untuk lensa, saya menggunakan lensa Canon EF 28-105mm F/3.5-4.5 II USM, lensa yang menjadi andalan saya dalam mengambil foto-foto candid. Kemudian untuk speedlite, saya gunakan Nissin Di622 karena acara ada di dalam ruangan. 4 baterai AA sudah saya persiapkan sehari sebelumnya untuk speedlite.
Pada hari H, saya sudah atur kamera ke speed priority berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika belajar menggunakan speedlite. Jadi tinggal atur exposure cahayanya secara manual. Yah resikonya, kadang cahayanya kurang dan kadang terlalu terang. Mesti pintar-pintar memperkirakan kondisi pencahayaan di ruangan. Yang jelas, jangan sampai ada satu pun momen berharga yang terlewatkan karena momen itu akan berlalu sangat cepat. Jadi butuh konsentrasi penuh.
Menurut saya, keberhasilan kita sebagai wedding photographer adalah ketika orang dapat merasakan emosi yang terpancar melalui foto yang kita ambil, contohnya: orang bisa turut merasakan bahagia ketika meliat ekspresi kedua pasangan pengantin, dan lain sebagainya. Ketika kita berhasil menyalurkan perasaan itu, disitulah saya merasakan kepuasan yang tak ternilai. Sesuai dengan kalimat berikut:
Picture shows thousands of words
Sebuah gambar lebih bermakna dari ribuan kata. Demikian halnya dengan foto yang dapat menggambarkan berbagai perasaan yang dirasakan oleh orang yang menjadi objek foto kita.
Belajar Menggunakan Speedlite
Setelah berbulan-bulan lamanya, akhirnya saya coba mengisi lagi blog ini dengan berbagi secuil ilmu mengenai bagaimana cara menggunakan speedlite.
Sekitar awal Januari, akhirnya saya investasi (lagi) dengan membeli Nissin Speedlite Di622. Sekilas, memang merknya sama dengan kue-kue kalengan yang dijual di supermarket. Tapi jangan salah, speedlite ini (menurut saya) sudah cukup untuk cari duit kecil-kecilan sebagai tukang foto keliling! Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman dalam menggunakan speedlite Nissin dalam berbagai indoor event.
Pengalaman pertama menggunakan speedlite adalah dalam acara seminar kecil. Alhamdulillah, saya dapat kesempatan untuk jadi juru fotonya sambil mengasah kemampuan dan menambah jam terbang untuk foto event. Di event ini saya mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kesalahan saya. Kesalahan saya adalah mengatur kamera dengan aperture priority. Kenapa ini menjadi kesalahan yang sangat mendasar?
- Objek yang saya foto adalah manusia yang selalu bergerak dan bukan model yang dapat saya atur posenya.
- Pencahayaan ruangan yang redup, sedangkan saya menggunakan lensa Canon EF 28-105mm dengan F/3.5-4.5 yang tidak memiliki diafragma yang besar dalam kondisi cahaya yang minim.
Akibatnya, banyak foto yang blur dan ada satu momen yang paling penting, malah kualitasnya jelek karena objeknya bergerak. F sudah saya atur yang paling kecil. Tapi karena cahayanya kurang, jadi speednya agak lambat. Kalau dipikir-pikir, sangat mengecewakan. Foto yang (layak) saya serahkan hanya70, dari 100-an foto yang saya ambil. Benar-benar pengalaman yang buruk untuk memulai job sebagai tukang foto. Tapi, saya bersyukur karena melakukan kesalahan, sebab saya dapat mengambil pelajarannya.
Setelah itu saya berpikir, bagaimana caranya untuk foto di acara serupa, dengan objek manusia yang bergerak dan dalam ruangan, tapi saya tidak ingin menggunakan ISO 1600 karena banyak noise-nya. Akhirnya, saya konsultasi dengan teman yang lebih berpengalaman menggunakan speedlite. Dia menyarankan saya untuk mengatur kamera dengan speed priority. Setelah diberi petunjuk, saya langsung ingin mempraktekkannya di suatu acara. Kebetulan ada teman SMP saya yang akan segera menikah. Langsung saja saya tawarkan jasa untuk sekedar foto-foto candid, free of charge. Tentu saja, dia sangat senang dengan keinginan saya tersebut, namanya juga gratis…
Di hari-H, saya sudah bersiap membawa speedlite beserta baterai AA yang full charged, serta Canon EOS 400D + Lensa EF 28-105mm F/3.5-4.5 USM kesayanganku. Kamera saya atur dengan speed priority ditambah dengan manual flash exposure sesuai dengan kebutuhan pencahayaan. Alhasil, foto-foto candid yang saya ambil sukses besar dan teman saya yang baru nikah itu sangat senang dengan foto-fotonya. Memang, pernikahan adalah momen paling bahagia bagi pasangan penganting. Tetapi, pada saat itu juga adalah momen saya yang paling bahagia karena dapat mengabadikan kebahagiaan kedua pasangan pengantin. Sepertinya saya mulai menikmati jadi tukang foto candid di wedding nih. Ada yang berminat meng-hire saya di acara nikahannya? hehe…
Lens Review: Canon EF 50mm f/1.8 II
Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya saya memiliki lensa sendiri. Sebelumnya saya mempertimbangkan untuk membeli lensa bekas karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan membeli lensa baru. Tetapi ketika melihat-lihat harga lensa baru di Oktagon maupun JPCKemang, saya tertarik dengan lensa Canon EF50mm f/.8 II. Pertimbangan pertama adalah harganya yang sangat murah. Hal berikutnya adalah kualitas gambarnya. Jadi meskipun harganya murah tapi kalau hasilnya tidak tajam, saya tidak akan membelinya. Namun seteleh melihat review dari The-Digital- Picture.com, saya semakin mantap untuk memiliki lensa tersebut. Karena harganya masih terjangkau, saya memutuskan untuk membeli lensa baru.
Dengan aperture f/1.8, latar belakang dari objek akan menjadi sangat blur. Berikut adalah 2 foto yang diambil dengan menggunakan aperture yang berbeda.
f/1.8
f/5.6
Lihat perbedaan antara kedua gambar di atas. Latar belakang gambar pertama (f/1.8) terlihat sangat blur dibandingkan dengan gambar kedua (f/5.6). Hasil jepretannya pun sangat tajam dan cocok untuk foto produk atau potrait. Jadi dapat dibayangkan bagaimana gambar yang dihasilkan dengan menggunakan lensa yang memiliki aperture f/1.2 seperti Canon EF 50mm f/1.2 L USM. Yang pasti harganya berlipat-lipat dari lensa murah Canon EF 50mm f/1.8 II. Memang lensanya murah, tapi yang jelas tidak murahan.
Kelemahan dari lensa ini terletak pada fokusnya yang agak sulit diatur karena pengaturannya berada pada ujung lensa. Selain itu, lensa ini terbuat dari bahan plastik, jadi terkesan ringkih dan seperti mainan. Selebihnya tidak ada kekurangan lain. Jadi buat fotografer pemula yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli lensa yang mahal, Canon EF 50mm f/1.8 mungkin merupakan solusi terbaik.
Foto Terbaik Bulan November 2008
Onthel Cycling
Foto ini diambil di depan museum Fatahillah di kota tua. Waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah masuk Maghrib. Dengan kondisi pencahayaan yang minim, sangat sulit untuk mendapatkan foto yang bagus karena aperture-nya sudah mentok alias sudah yang paling lebar, yaitu f/4. Jadi, terpaksa speed-nya diperlambat. Untung saja masih dapat speed yang tidak terlalu lambat (1/6). Di situ saya mencoba teknik panning untuk pertama kalinya yang ternyata gampang-gampang susah. Objeknya bisa fokus, tapi komposisi jelek. Sebaliknya, komposisi bagus, tapi objeknya blur. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dapat satu foto yang terbaik (menurut saya lho). Walaupun objek agak tidak fokus (maklum masih amatir), tapi komposisi dan cahaya Cafe Batavia yang berada di latar belakang menambah hiasan yang menawan di foto tersebut.
Behind the scene:
Onthel disewa dari seorang tukang ojek sepeda yang ada di sekitar lokasi. Setelah proses negosiasi yang cukup alot, akhirnya kami sepakat untuk membayar sewa sepeda sebesar Rp 10.000 untuk digunakan selama 30 menit. Setelah itu dilakukan adegan bonceng-membongceng sambil difoto oleh juru kamera yang ada di sana (Japra, saya, dan adik saya). Terima kasih buat geng OOTers yang sudah berbagi keceriaan bersama. Walaupun badan pegal-pegal karena seharian keliling Kota Tua, namun sangat menyenangkan.
Detil foto:
- Model: Nury
- Kamera: Canon EOS 450 D
- Exposure: 1/6
- Aperture: f/4
- Focal length: 40 mm
- ISO speed: 800
Menara Kue
| From Menara Kue |
Ada pemandangan yang berbeda ketika kita memasuki Atrium Senayan City. Di sana terdapat barisan kue yang sengaja disusun setinggi 33 meter. Adalah Nila Sari, sang ahli kuliner yang akan mewujudkan menara kue tersebut yang disesuaikan dengan tajuk Amazing Christmas. Berdasarkan informasi yang dikutip dari bisnis.com, kue tersebut akan dipajang di atrium dari tanggal 28 November – 8 Desember.
| From Menara Kue |
Untuk membuat kue setinggi 33 meter, Nila Sari menghabiskan 600 kg tepung beras Rose Brand, 300 kg tepung ketan, 1750 kg gula halus, 1.620 kg gula pasir, 1.620 kg mentega, 162 kg susu bubuk, 243 kg cokelat bubuk dan 3.240 kg butir telur. Pada saat tulisan ini dibuat, memang kue tersebut belum selesai dibuat. Namun, jika menara kue tersebut jadi, Nila Sari akan tercatat di dalam Guiness Book of Record sebagai pembuat kue tertinggi di dunia. Sebagai catatan, kue tertinggi di dunia saat ini adalah 32 meter.
| From Menara Kue |
Proses pembuatan kue melibatkan 25 orang dan membutuhkan waktu 2 bulan untuk mempersiapkannya. Menara tersebut terdiri dari 21 tingkat yang disokong oleh kerangka besi. Jadi berat seluruh kue beserta kerangka adalah sekitar 20 ton. Bisa dibayangkan berapa anggaran yang dihabiskan untuk membuat kue setinggi itu. Kira-kira kue sebanyak itu akan diapakan yah?
My Wishlist
Berikut ini adalah beberapa barang yang ingin sekali saya beli dalam waktu dekat ini:
Tas Lowepro EX 160

www.jpckemang.com
Compact Flash Memory Card Sandisk Ultra II CF 2.0GB

www.jpckemang.com
Lensa Tamron SP AF 28-75mm f/2.8 XR Di LD Aspherical (IF) Macro

www.jpckemang.com
dan yang terakhir adalah:
Kambing Kurban

Kapan nabungnya kalo belanja melulu ![]()
Comments (1)
Comments (2)
Comments (6)











