Archive for December, 2008|Monthly archive page

Lens Review: Canon EF 50mm f/1.8 II

Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya saya memiliki lensa sendiri. Sebelumnya saya mempertimbangkan untuk membeli lensa bekas karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan membeli lensa baru. Tetapi ketika melihat-lihat harga lensa baru di Oktagon maupun JPCKemang, saya tertarik dengan lensa Canon EF50mm f/.8 II. Pertimbangan pertama adalah harganya yang sangat murah. Hal berikutnya adalah kualitas gambarnya. Jadi meskipun harganya murah tapi kalau hasilnya tidak tajam, saya tidak akan membelinya. Namun seteleh melihat review dari The-Digital- Picture.com, saya semakin mantap untuk memiliki lensa tersebut. Karena harganya masih terjangkau, saya memutuskan untuk membeli lensa baru.

Dengan aperture f/1.8, latar belakang dari objek akan menjadi sangat blur. Berikut adalah 2 foto yang diambil dengan menggunakan aperture yang berbeda.

f/1.8

f/5.6

Lihat perbedaan antara kedua gambar di atas. Latar belakang gambar pertama (f/1.8) terlihat sangat blur dibandingkan dengan gambar kedua (f/5.6). Hasil jepretannya pun sangat tajam dan cocok untuk foto produk atau potrait. Jadi dapat dibayangkan bagaimana gambar yang dihasilkan dengan menggunakan lensa yang memiliki aperture f/1.2 seperti Canon EF 50mm f/1.2 L USM. Yang pasti harganya berlipat-lipat dari lensa murah Canon EF 50mm f/1.8 II. Memang lensanya murah, tapi yang jelas tidak murahan.

Kelemahan dari lensa ini terletak pada fokusnya yang agak sulit diatur karena pengaturannya berada pada ujung lensa. Selain itu, lensa ini terbuat dari bahan plastik, jadi terkesan ringkih dan seperti mainan. Selebihnya tidak ada kekurangan lain. Jadi buat fotografer pemula yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli lensa yang mahal, Canon EF 50mm f/1.8 mungkin merupakan solusi terbaik.

Foto Terbaik Bulan November 2008

Onthel Cycling

Foto ini diambil di depan museum Fatahillah di kota tua. Waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah masuk Maghrib. Dengan kondisi pencahayaan yang minim, sangat sulit untuk mendapatkan foto yang bagus karena aperture-nya sudah mentok alias sudah yang paling lebar, yaitu f/4. Jadi, terpaksa speed-nya diperlambat. Untung saja masih dapat speed yang tidak terlalu lambat (1/6). Di situ saya mencoba teknik panning untuk pertama kalinya yang ternyata gampang-gampang susah. Objeknya bisa fokus, tapi komposisi jelek. Sebaliknya, komposisi bagus, tapi objeknya blur. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dapat satu foto yang terbaik (menurut saya lho). Walaupun objek agak tidak fokus (maklum masih amatir), tapi komposisi dan cahaya Cafe Batavia yang berada di latar belakang menambah hiasan yang menawan di foto tersebut.

Behind the scene:

Onthel disewa dari seorang tukang ojek sepeda yang ada di sekitar lokasi. Setelah proses negosiasi yang cukup alot, akhirnya kami sepakat untuk membayar sewa sepeda sebesar Rp 10.000 untuk digunakan selama 30 menit. Setelah itu dilakukan adegan bonceng-membongceng sambil difoto oleh juru kamera yang ada di sana (Japra, saya, dan adik saya). Terima kasih buat geng OOTers yang sudah berbagi keceriaan bersama. Walaupun badan pegal-pegal karena seharian keliling Kota Tua, namun sangat menyenangkan. :-)

Detil foto:

  • Model: Nury
  • Kamera: Canon EOS 450 D
  • Exposure: 1/6
  • Aperture: f/4
  • Focal length: 40 mm
  • ISO speed: 800