Archive for March, 2009|Monthly archive page
Wedding Photographer
Menurut saya, pernikahan adalah sesuatu yang amat sakral, momen terjalinnya suatu ikatan suci antara seorang suami dan istrinya. Momen yang penuh keharuan dan sukacita yang terpancar dari kedua pasangan pengantin. Entah kenapa, saya sangat suka melihat ekspresi yang terpancar dari kedua mempelai. Kemudian juga ada perasaan yang puas ketika berhasil menangkap momen-momen kebahagiaan kedua pasangan tersebut. Rasanya jadi mau nikah juga… hehe….
Tapi sebelum beraksi jadi wedding photographer, biasanya saya mempersiapkan semua perlengkapannya, mulai dari kamera, lensa, speedlite beserta baterainya. Khusus untuk lensa, saya menggunakan lensa Canon EF 28-105mm F/3.5-4.5 II USM, lensa yang menjadi andalan saya dalam mengambil foto-foto candid. Kemudian untuk speedlite, saya gunakanĀ Nissin Di622 karena acara ada di dalam ruangan. 4 baterai AA sudah saya persiapkan sehari sebelumnya untuk speedlite.
Pada hari H, saya sudah atur kamera ke speed priority berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika belajar menggunakan speedlite. Jadi tinggal atur exposure cahayanya secara manual. Yah resikonya, kadang cahayanya kurang dan kadang terlalu terang. Mesti pintar-pintar memperkirakan kondisi pencahayaan di ruangan. Yang jelas, jangan sampai ada satu pun momen berharga yang terlewatkan karena momen itu akan berlalu sangat cepat. Jadi butuh konsentrasi penuh.
Menurut saya, keberhasilan kita sebagai wedding photographer adalah ketika orang dapat merasakan emosi yang terpancar melalui foto yang kita ambil, contohnya: orang bisa turut merasakan bahagia ketika meliat ekspresi kedua pasangan pengantin, dan lain sebagainya. Ketika kita berhasil menyalurkan perasaan itu, disitulah saya merasakan kepuasan yang tak ternilai. Sesuai dengan kalimat berikut:
Picture shows thousands of words
Sebuah gambar lebih bermakna dari ribuan kata. Demikian halnya dengan foto yang dapat menggambarkan berbagai perasaan yang dirasakan oleh orang yang menjadi objek foto kita.
Belajar Menggunakan Speedlite
Setelah berbulan-bulan lamanya, akhirnya saya coba mengisi lagi blog ini dengan berbagi secuil ilmu mengenai bagaimana cara menggunakan speedlite.
Sekitar awal Januari, akhirnya saya investasi (lagi) dengan membeli Nissin Speedlite Di622. Sekilas, memang merknya sama dengan kue-kue kalengan yang dijual di supermarket. Tapi jangan salah, speedlite ini (menurut saya) sudah cukup untuk cari duit kecil-kecilan sebagai tukang foto keliling! Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman dalam menggunakan speedlite Nissin dalam berbagai indoor event.
Pengalaman pertama menggunakan speedlite adalah dalam acara seminar kecil. Alhamdulillah, saya dapat kesempatan untuk jadi juru fotonya sambil mengasah kemampuan dan menambah jam terbang untuk foto event. Di event ini saya mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kesalahan saya. Kesalahan saya adalah mengatur kamera dengan aperture priority. Kenapa ini menjadi kesalahan yang sangat mendasar?
- Objek yang saya foto adalah manusia yang selalu bergerak dan bukan model yang dapat saya atur posenya.
- Pencahayaan ruangan yang redup, sedangkan saya menggunakan lensa Canon EF 28-105mm dengan F/3.5-4.5 yang tidak memiliki diafragma yang besar dalam kondisi cahaya yang minim.
Akibatnya, banyak foto yang blur dan ada satu momen yang paling penting, malah kualitasnya jelek karena objeknya bergerak. F sudah saya atur yang paling kecil. Tapi karena cahayanya kurang, jadi speednya agak lambat. Kalau dipikir-pikir, sangat mengecewakan. Foto yang (layak) saya serahkan hanya70, dari 100-an foto yang saya ambil. Benar-benar pengalaman yang buruk untuk memulai job sebagai tukang foto. Tapi, saya bersyukur karena melakukan kesalahan, sebab saya dapat mengambil pelajarannya.
Setelah itu saya berpikir, bagaimana caranya untuk foto di acara serupa, dengan objek manusia yang bergerak dan dalam ruangan, tapi saya tidak ingin menggunakan ISO 1600 karena banyak noise-nya. Akhirnya, saya konsultasi dengan teman yang lebih berpengalaman menggunakan speedlite. Dia menyarankan saya untuk mengatur kamera dengan speed priority. Setelah diberi petunjuk, saya langsung ingin mempraktekkannya di suatu acara. Kebetulan ada teman SMP saya yang akan segera menikah. Langsung saja saya tawarkan jasa untuk sekedar foto-foto candid, free of charge. Tentu saja, dia sangat senang dengan keinginan saya tersebut, namanya juga gratis…
Di hari-H, saya sudah bersiap membawa speedlite beserta baterai AA yang full charged, serta Canon EOS 400D + Lensa EF 28-105mm F/3.5-4.5 USM kesayanganku. Kamera saya atur dengan speed priority ditambah dengan manual flash exposure sesuai dengan kebutuhan pencahayaan. Alhasil, foto-foto candid yang saya ambil sukses besar dan teman saya yang baru nikah itu sangat senang dengan foto-fotonya. Memang, pernikahan adalah momen paling bahagia bagi pasangan penganting. Tetapi, pada saat itu juga adalah momen saya yang paling bahagia karena dapat mengabadikan kebahagiaan kedua pasangan pengantin. Sepertinya saya mulai menikmati jadi tukang foto candid di wedding nih. Ada yang berminat meng-hire saya di acara nikahannya? hehe…
Comments (1)

Comments (1)



